Senin, 21 Juni 2010

PROGRAM LATIHAN SPRINT



PROGRAM LATIHAN ATLETIK


Untuk mencapai prestasi puncak dalam Olahraga harus latihan dari umur muda dan berlangsung 10 – 12 tahun . Dari Pereode yang panjang ini dibagi menjadi 3 tahapan latihan:

  1. Tahap Latihan Dasar
  2. Tahap Menengah ( Pembagunan )
  3. Tahap Lanjut ( Penampilan Puncak )


TAHAP PEMULA


Untuk Memulai Latihan yang sistimatik setip cabang olahraga di mulai dari umur yang berbeda-beda Latihan tahap dasar ini berlangsung selama 2 tahun tahap ini berisi :

  1. Menumbuhkan Rasa senang berolahraga
  2. Mengembangkan kapasitas fisik
  3. Mengajarkan Skil Dasar/Teknik Dasar
  4. Memberikan Pewngalaman bermcam gerak yang berbeda
  5. Menambahakan Kebiasaan yang baik ( Disiplin,berkosentrasi,keberanian ,dll)


TAHAP MENENGAH

  1. Melanjutkan perbaikan kondisi fisik umum,
  2. sudah mulai mengarah kepada kondisis fisik khusus ke cabang piihan masing-masing.
  3. Memperbaki kemampuan koordinasi yang benar dari kombinasi bermacam gerak.Mengajarkan ketrampilan gerak yang lebih sulit
  4. Penyempurnaan teknik dasar
  5. Pengetahuan tentang taktik
  6. Latiahan mengikuti kompetisi


TAHAP PENAMPILAN PUNCAK


Tujuan pokok pada tahap ini untuk mencapai penapilanan prestasi yang setinggi mungkin dan mempertahankan tingkat yang tingi selam mungkain.Tahap ini berisi bentuk latihan yang mengarah pada :

  1. Kelanjutan penguasaan ketrampilan
  2. Menjaga kestabilan prestasi dalam kondisi pertandingan yang berbeda-beda
  3. Pengembangan Gaya/kekhususan perorangan
  4. Peningkatan kondisis fisik yang paling tinggi
  5. Memberikan Pengalaman betanding yang beragam
  6. Keluwesan taktik dan kebebasan dalam menghadapi situasi pertandingan yang beragam.


SUSUNAN SATU SESI LATIHAN

  1. Pembukaan ( Pengantar) 5 ‘
  2. Pemanasan ( Warming up ) 20 ‘ – 30 ‘
  3. Bagian Utama ( Inti ) 60′ – 90 ‘
  4. Penutup (warming dwon ) 15 ‘

A. PEMBUKAAN BERISI

  1. Penyampaian tujuan latihan saat itu dan harapam mengenai sikap yang ingin dicapai
  2. Penjelasan materi l;atihan untuk mencampa tujuan-tujuan tersebut
  3. Meberikan motifsi gar melaksanakan latihan denganm semangat yang tinggi


B. WARMING UP BERISI


Pada dasarnya bagian ini bertujuan menyiapkan organism atlit agar secara fisiologis dan psikologis siap menerima beban latihan pada bagian inti nanti .secara garis besar dapat berisi sebagai berikut :

  1. Mempelncar sirkulasi darah,melebarkan kapiler/mempelancar pergantian udara diparu-paru
  2. Penguluran dan mempertinggi kontraksi optot
  3. Melemaskan persendiaan-persendian

Beberapa pedoman dalam Warming Up

  • Sasaran Warming dari yang umum ke yang khusus
  • Dapat dilakuakan dalam bentuk Streching statis dan balistik,dalam bentuk permainan kecil, sebaiknya dimulai dengan jogging-ringan untuk lebih mempercepat meangasang kerja jantung dan paru-paru.
  • Gerakan dimulai dari intensitas ringan /sedang menujua kaearah yang beratataudari gerakan yang sederhana ke gerakan yang lebih komplek.
  • Latihan senam ( Calesthenik ) dalam warming Up harus dipilih secara tepat dan menyeluruh latihan yang berkisar antara 8 -12 macam dengan 16 kali ulangan
  • Warimg up tidak boleh membuat kaku dan dan tidak boleh melelahakn
  • Warming up untuk pertandingan mengandung unsure-unsur yang lebih lengkap dan lebih lama ( 30 – 40′) secara optimal siap bertanding
  • Pemansan dengan mengunakan yang sesuai dengan cabang olahraga, dilakukan setelah pemansaan umum.

BAGIAN UTAMA ( INTI )

Latihan inti dapat berisi dengan berbagai prinsip ;

  1. Dapat 1- 3 macam sasaran,sasaran dapat berupa kulatisa fisik,teknik,taktik atau kombinasi dari ketiganya
  2. Latihan teknik dan taknik atau kombinasi dari kedua unsure tsb, ataupun kombinasi dari ketiganya
  3. Latihan teknik dan taktik hendaknya diletakan pada bagian awal latihan inti jangan ada latihanynyang melelahakan sebelumnya.kalau latihan teknik dan teknik yang sangant komplek harus disderhanakan.
  4. Latihan teknik dan teknik dengan repetisi tinggi dan intenstas tinggi baru boleh diberikan apabila bentyuk gerakan tekniknya sudah dikuasai dengan baik/betul.
  5. Kalau Latihan berupa unsur kondisi fisik kecepatan harus diletakan pada bagian awaljuga,dimana dfisik masih dalam keadaan segar ( tidak boleh dalam kelelahan )
  6. Kalau kecepatan digabungkan dengan power juga kecepatan harus didahulukan
  7. Kalau kekuatan di kombinasikan dengan daya tahan,maka daya tahan diletakan pada bagian akhir inti.
  8. Jangan menggabungkan latihan kecepatan dengan daya tahan aerobic dalam satu seseion.


BAGIAN AKHIR (WARMINGDWON)


Bagian akhir dari suatu latihan disebut juga sebag penenangan Latihan inti , dapat berisi dengan berbagai prinsip

  1. Latihan jangan berhenti dengan tiba-tiba,( karena dapat menimbulkan stres, baik stress fisik maupun phiskis ) maka pelu ada penurunana perlahan-lahan-lahan sampai kembali keadan normal.
  2. Mengakiri suatu latihan dengan bermcam-macam seperti cara ; joggingringan,senam relaksasi bentk permainan kecil,strecing ringan mengaur irama pernafaasan ( inpirasi dan ekspirasi yang dalam )
  3. Bagian paling akhir sekali dapat berisi dangan ewaluasi beupa ceramah,diskusi atau koreksi-kareksi pelaksanan latihan yang baru saja dilakukan
  4. Secara psikologis latihan ditutup dengan kesan yang menyenangkan agar dapat menjaga dan meningkatkan motivasi untuk menhgadapi latihan beikutnya


PROGRAM LATIHAN SPRINT


A. LATIHAN TEKNIK DAN BENTUK LATIHAN

B. TAHAP LATIHAN

C. PROGRAM LATIHAN

  1. LATIHAHAN TEKNIK DAN BENTUK LATIHAN

Unsur Latihan Sprint

  • Teknik Start
  • Teknik Sprint
  • Teknik Finis
  1. Latihan teknik Start yang perlu diperhatikan
  1. Tahap bersdia
  2. Tahap siap
  3. Tahap dorongan
  4. Tahap Akselarsi

Bentuk latihan ;

ü Latihan start dari posisi duduk,berdiri, .latihan dorogan

ü Latihan star dan akselaris dngan jarak 10 sampai 30 meter

ü Latihan khusus gerakan tungkai,

ü Latihan dengan wariasai tahap star, besedia, siap yaa.

ü Dengan kecepaant gerak dan reaksi.

ü Latihan kekuatan dengan beban untuk otot otot ektensor dengan beban 3 set, 3 repetisi, dengan beban 90 % dari maksimal

ü Kekuatan Kecepatan dengan ; bebagai latihan denganm otot pendukung utam start9 tungkai ) sperti: Leg pes squat kaki. Satu kaki spli. Dengan dosis (60 -80 %) dengan 3 set, 6 repetisi beban 80 %

ü Latihan eknik /koordinasi

  1. Teknik Sprint
  1. Gerakan Keseluruhan. Ayuinan tangan, sikap badan.
  2. Tahap menumpu dan mendorong
  3. Tahap melayang pada saat lari

Bentuk Latihan :

Teknik koordinasi dengan cara latihan :

ü Sprint dril dengan cara tendang pantat. Angkat lutut, dan pelurusan

ü Sprint diril kombinasi sprin dengan jarak berfariasi

Latihan Kecepatan Gerak

ü Meningkat efisensi gerakan langkah dan panjang langkah

ü Lari system dari cepat kemudian lambat

ü Lari dari lambat kemudian sprint

ü Laari dari medan turun

Latihan Akselarsi

ü Strat dari berbagai posisi siap dan ya dengan jarak yang berbeda

ü Lai dengan peletakan tanda bilah pada lintasan

Latihan Kecepatan Maksimal

ü Latihan dengan strat melayang jarak 30 meter dengan 3 set 3 repetisi

ü Lari dari medan yang turun

Latihan Daya tahan Kecepatan

ü Lari dengan jarak cukup jauh 100 -600 meter

ü Latihan dengan Ins and out. Sprint 20 m. rilek 20 meter. 3 repetisi

Latihan Kekuaan maksimal

ü Latihan untuk kekuatan otot ektensor(Lompat baku 3 x 3 x 90 % dari maksimal

ü Latihan sirkuit training dengan beban yang rengan

Latihan dsya tahan ,kekuatan kecepatan

ü Lari denan beban / lari kijang 100 m

ü Lari di medan naik

Kekuatan ,kecepatan power

ü Bebagai latihan denga beban, sperti leg pres, step up dengan beban 60 – 80 % dengan 3 seet 3 repetisi x 80 % beban mak

ü Lari tahan dengan jarak jauh

ü Lari mulipel jump, Lari lompat/Lari kijang

ü Lari tahanan dengan beban

  1. Teknik Finis

-Teknik memasuk garis finis dapat dengan menyodorkan badan, membusungkan dada,.

  1. Yang perlu diperhatikan dalam latihan adalah :
  • Kekuatan maksimal
  • Kecepatan :Kecepatan Reaksi,Kecepatan gerak,Kecepatan Akselarasi/percepatan
  • Daya Tahan Aerobik dan Anareobik
  • Koordinasi
  • Kelentukan
  • Mental.

ü Latihan . Peningakatan sistimatis tekanan psikologis

ü Pertandingan: Meningkatan kemamupan kosentarasi,raliksasi dan kemampuan mempersiapkan diri untuk mencapi kenerja optmal.


Di tulis Nur Edi Setiyono

PEMULIHAN (RECOVERY) DALAM OLAHRAGA



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebanyakan atlet, khususnya atlet profesional melakukan kewajiban berlatih setidaknya dua kali sehari.Latihan rutin itu membawanya berada dalam tekanan, baik fisiologis maupun psikologis.Ternyata ada faktor lain di luar latihan dan pertandingan yang akan mempengaruhi performa si atlet.Untuk mengatasinya, si atlet harus mengatur keseimbangan antara latihan, social life, dan pemulihan. Dalam latihan apalagi turnamen factor pemulihan ini memegang peranan yang sangat penting. Setelah bertanding apalagi kalau pertandingannya harus “all out” maka cadangan energi didalam tubuh sangat berkurang. Kalau keesokan harinya harus bertanding lagi sedangkan pemulihannya harus sempurna maka akan kalah. Kalahnya bukan karena tekniknya yang ketinggalan tetapi karena kehabisan tenaga, apalagi kalau cadangan energinya rendah. Sebab, pengisian energy dalam otot tidak sama dengan pengisian bahan bakar pada mesin mobil. Oleh karena itu, sebelum bertanding latihan itu ditujukan untuk peningkatan cadangan system energy yang bersangkutam sehingga pada waktu turnamen cadangan energy sudeh tinggi. Apabila permulaannya sudah tinggi dan cadangan pemulihannya baik, maka atlit tersebut akan dapat bertanding dalam tempo yang tinggi. Seorang pelatih harus mengetahui bagaimana meningkatkan system energy,mengurus system energy serta pemulihan dari system energy itu.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pemulihan cadangan energy ?
  2. Bagaimana pembuangan asam laktat ?
  3. Bagaimana pemulihan cadangan oksigen ?
  4. Bagaimana proses pulih asal atau pemulihan ?

1.3 Tujuan

  1. Untuk menjelaskan pemulihan cadangan energy
  2. Untuk menjelaskan pembuangan asam laktat
  3. Untuk menjelaskan pemulihan cadangan oksigen
  4. Untuk menjelaskan proses pulih asal atau pemulihan

BAB II

PEMBAHASAN

Recovery adalah proses multidimensi yang tergantung pada faktor intrinsik dan ekstrinsik. Beberapa faktor yang berpengaruh:

1. Usia atlet (usia di atas 25 tahun perlu waktu lebih lama untuk recovery; usia di bawah 18 tahun perlu istirahat lebih banyak sebelum berlatih lagi)

2. Pengalaman (berpengaruh ke adaptasi psikologis)

3. Jenis kelamin (wanita lebih lambat karena faktor hormonal)

4. Faktor tempat berlatih (berlatih di tempat dingin memacu produksi hormon regenerative seperti hormon pertumbuhan dan testosteron

5. Freedom of movement

6. Tipe serat otot (otot fast twich fiber lebih cepat lelah daripada slow-twich)

7. Jenis latihan (aerobik vs anaerobik; latihan endurance lebih lama recovery dibandingkan latihan sprint)

8. Faktor psikologis (atlet yang tertekan perlu waktu lebih lama untuk recovery)

9. Kemampuan melepaskan diri dari trauma cedera

10. Ketersediaan mikronutrien tubuh (vitamin, mineral, protein, lemak, dan karbohidrat)

11. Efisiensi transfer energi dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna tubuh

Dalam latihan apalagi turnamen factor pemulihan ini memegang peranan yang sangat penting. Pengisian atau pemulihan kembali energy memerlukan waktu. Pemulihan (recovery) adalah mengembalikan kondisi tubuh sebelum perlombaan.

Pemulihan dibagi menjadi 3, yaitu :

  1. pemulihan cadangan energy
  2. membuang asam laktat dari darah dan oksigen
  3. pemulihan cadangan energy

2.1 PEMULIHAN CADANGAN ENERGI

Cadangan energy yang dapat diganti pada fase pemulihan adalah :

  1. System phopagen (ATP PC dalam otot)
  2. Glikogen yang terdapat dalam otot dan hati

Cadangan ATP-K dalam tubuh kita sangat sedikit dan habis digunakan kalau kita berlatih sedetik saja. Dalam waktu 30 detik 70 % ATP-PC telah terbentuk kembali, sedangkan dalam waktu 3 – 5 menit pemulihan itu sudah sempurna pada waktu pemulihan itu diperlukan oksigen, tanpa oksigen pemulihan tidak terjadi.

Kadar oksigen dalam otak maupun hati juga berkurang pada waktu latihan atau pertandingan. Besarnya pengurangan kadar glikogen itu tergantung dari macam latihan. Pada umumnya latihan bersifat ketahanan dan kontiniu menyebabkan pengurangan glikogen yang lebih banyak dibandingkan dengan latihan intermitten.

Kalau kita amati pemulihan glikogen sesudah latihan yang sama dan berat dapat terjadi hal berikut :

  1. Dalam waktu 1-2 jam, hanya sedikit sekali terjadi pemulihan glikogen.
  2. Untuk pemulihan glikogen diperlukan makan yang mengandung karbohidrat yang tinggi
  3. Tanpa makan karbohidrat yang tinggi maka pemulihan oksigen tidak banyak
  4. Pemlihan glikogen dengan makan karbohidrat berjalan dengan cepat dalam waktu 10 jam sekitar 60% glikogen yang dapat dipulihkan

Kita mengenal adanya otot cepat dan otot lambat, ternyata bahwa pemulihan glikogen pada otot cepat lebih cepat dibandingkan dengan otot lambat selain tergantung diet atau macamnya otot, pemulihan glikogen juga dipengaruhi oleh latihan yang dikerjakan waktu pemulihan. Kalau istirahat total maka pemulihan tidak begitu cepat, pemulihan lebih cepat bila berlatih secara kontiniu dan akan lebih cepat lagi kalau berlatih secara intermitten.

2.2 ASAM LAKTAT

Bertambah berat latihan bertambah pula kadar asam laktat dalam otot maupun darah. Dalam keadaan istirahatpun selalu didapatkan asam laktat dalam darah dan kadar ini bertambah berat pada latihan. Asam laktat juga menjadi sebab tinbulnya kelelahan. Oleh karena itu, sedapat mungkin kadar asam laktat itu dikembalikan kekeadaan sebelum latihan, yaitu ke kadar yang rendah.

Bagaimana nasib asam laktat yang terdapat dalam tubuh setelah latihan sebagian laktat akan dibuang lewat keringat atau urine, dan sebagian kecil asam laktat dapat diubah kembali menjadi bentuk glikogen dalam hati. Perlu diungkapkan bahwa pembentukan glikogen dalam hati dari asam laktat tidak memegang peranan yang sangat penting dalam pengurangan kadar asam laktat. Pengurangan asam laktat yang terbanyak adalah dengan cara mengubah asam laktat ke darah . Hal ini dapat dilakukan oleh otot, otot jantung, ginjal maupn hati.

Pembuangan asam laktat lebih baik kalau kalau seseorang itu berlatih secara kontiniu. Latihan intermitten berfungsi lebih cepat menurunkan kadar laktat dalam darah. Pembuangan asam laktat dalam darah dan otot terjadi 25 menit bila tanpa aktivitas. Pembuangan asam laktat lebih cepat dengan latihan fisik ringan secara kontiniu. Jadi dianjurkan untuk tetap berlatih yang ringan selama tidak bertanding serta makan – makanan yang mengandung karbohidrat.

2.3 PEMULIHAN CADANGAN ENERGI

Oksigen bersenyawa dengan myoglobin yaitu suatu macam protein yang terdapat dalam otot yang mempunyai sifat mengikat oksigen.oksigen yang tersimpan dan terikat dengan myoglobin ini diperkirakan 11,2 ml/kg otot sehingga untuk orang yang beratnya 30 kg, maka yang tersimpan 30 x 11,2 ml = 336 ml oksigen. Kalau dilihat sepintas lalu memang cadangan oksigen itu tidak begitu banyak, namun pengaruh cadangan oksigen itu akan kelihatan apabila seseorang bekerja secara intemitten.

2.4 PEMULIHAN SECARA ALAMI

1. Kinotherapy (active rest)

- Kinotherapy adalah menghilangkan secara cepat asam laktat dalam latihan aerobik level moderat.

- Intensitas latihan aerobik level sedang dalam kinotherapy tidak lebih dari 60% laju detak jantung atlet.

- Joging ringan akan menghilangkan 62% asam laktat dalam 10 menit pertama, pada 10-20 menit berikutnya 26% asam laktat akan hilang.

2. Complete Rest (passive rest)

- Istirahat penuh adalah mengistirahatkan untuk sementara working capacity seorang atlet.

- Atlet perlu tidur 9-10 jam dimana 80-90% tidur diilakukan malam hari.

- Atlet memerlukan treatmen relaksasi agar tidurnya nyenyak. Relaksasi itu bisa dilakukan antara lain dengan relaksasi, pijat, maupun mandi air hangat. Lampu kamar yang dimatikan, aroma terapi. Jika perlu, gunakan ear plug jika situasi kamar berisik.

2.5 PROSES PULIH ASAL ATAU PEMULIHAN

Proses pemulihan

Perkiraan waktu pemulihan

Minimum

Maksimum

Pemulihan ototPenyimpanan ATP-PCMemperbaiki komponen alaktacid

Pemulihan glikogen dalam otot

Penyimpanan glikogen di hati

Memperbaiki asam laktat dari darah dan otot

Memperbaiki komponen laktacid oksigen

Pemulihan cadangan oksigen

2 menit3 menit10 hari

15 hari

Tidak diketahui

30 menit

1 hari

30 menit

10-15 detik

5 menit5 menit46 hari

24 hari

12-24 hari

1 hari

2 hari

1 hari

1 menit

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Mengapa pemulihan sangat penting setelah atlet melaksanakan program latihan dan pertandingan?. Pemulihan lebih cepat bila berlatih secara kontiniu dan akan lebih cepat lagi jika berlatih secara intermitten. Pemulihan (recovery) adalah mengembalikan kondisi tubuh sebelum perlombaan. Jadi pengertian itu sangat penting untuk menentukan tindakan – tindakan selanjutnya dari pelatih. Pengertian ini perlu untuk menentukan dalam turnamen serta latihan – latihan dalam turnamen.

DAFTAR PUSTAKA

Soekarman, prof. Dr. R. 1991. Energi dan Sistem Enrgi Predominan pada Olahraga. Jakarta : Komite Olahraga Nasioanal Indonesia Pusat

Tudor O Bompa, PhD. 2009. Periodization Theory and Methodology of Training York University Human Kinetics

PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA DINI




PENDAHULUAN

Pada saat ini di Indonesia pengembangan dan pembinaan potensi anak usia dini tengah mendapat pembinaan serius dari sejumlah pihak khususnya pemerintah, hal ini didasarkan bahwa untuk mewujudkan generasi penerus yang unggul, anak usia dini benar-benar dipersiapkan perkembangan dan pembinaanya secara maksimal, untuk dapat menghadapi tantangan kehidupan di masa yang akan datang. Aspek-aspek pembinaan dan perkembangan yang perlu diperhatikan pada anak usia dini yaitu kognitif, bahasa, sosial, moral, emosi, kepribadian serta keterampilan motorik, sebagaimana tertuang dalam Konfrensi Genewa tahun 1997, agar aspek dapat berkembang dengan baik, maka diperlukan sistem pembinan yang berkualitas terutama sekali aspek perkembangan motorik.
Anak usia dini berada pada masa lima tahun pertama (the Golden Years), pada masa perkembangan anak (Hussein, 2002). Anak pada usia tersebut mempunyai potensi besar untuk mengoptimalkan segala aspek perkembangannya, termasuk perkembangan motorik sebagai perkembangan unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. Anak usia dini memiliki energi yang cukup tinggi. Kegiatan fisik dan pelepasan energi dalam jumlah besar merupakan ciri aktivitas pada anak usia dini. Karena energi yang dimiliki anak dalam jumlah besar tersebut memerlukan penyaluran dalam beraktifitas Energi tersebut diperlukan untuk melakukan berbagai kegiatan untuk melakukan aktivitas fisik dan aktivitas lainnya. Baik yang berkaitan dengan keterampilan motorik kasar, seperti berlari, melompat, bergantung, melempar dan menendang bola, maupun keterampilan motorik halus seperti menguatkan jari-jari untuk menyusun puzzle, memilih balok, dan menyusunnya menjadi bangunan tertentu.
Perkembangan motorik anak usia dini sering terabaikan ataupun dilupakan oleh orang tua, pembimbing bahkan guru sendiri, hal ini disebabkan mereka belum memahami bahwa perkembangan motorik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan anak. Berdasarkan hal tersebut perlu pengembangan keterampilan motorik anak usia dini, agar semua pihak yang berkepentingan seperti guru, orang tua dapat memahami dan menerapkan pada anak didiknya.






















PEMBAHASAN

A. Lingkup Anak Usia Dini
Banyak klasifikasi tentang anak usia dini. Secara umum batasan yang dipakai usia 8 tahun ke bawah. Di Indonesia ada beberapa hakekat yang harus dicermati bagaimana memahami anak usia dini antara lain :
1). Anak usia dini adalah kelompok manusia yang berusia 0-6 tahun (UU No 20 tahun 2003). Tetapi para pakar pendidikan anak usia dini menyebutkan yang berusia antara 0-8 tahun.
2). Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam poses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Artinya memiliki pertumbuhan dan perkembangan fisik ( koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional, bahasa dan komunikasi yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang sedang dilalui oleh anak tersebut.
3). Berdasarkan keunikan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia dini dibagi menjadi tiga tahap yaitu usia, masa toddler 0-3 tahun, masa pra sekolah usia 3-6 tahun, masa kelas awal SD usia 6-8 tahun ( sumber :Direktorat Pendidikan anak Usia Dini, 2004).
Pendapat lain tentang batasan anak usia dini yang dikemukakan oleh Beeker, yaitu anak usia dini adalah anak yang dikelompokkan ke dalam usia 3-6 tahun, anak tersebut biasanya mengikuti program pendidikan dini. Sementara Eric dalam Sumantri (2005), membagi tahap perkembangan yang terkait dengan masa kanak-kanak sebagai berikut :
1). Tahap Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga) usia 0-2 tahun
Dalam tahap ini bila ada respon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenangkan akan tumbuh percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan curiga.
2). Tahap Autonomy vs Shame & Doublt (mandiri vs ragu) usia 2-3 tahun.
Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh ototnya - otot tubuhnya. Anak pada masa ini bila sudah mampu menguasai anggota tubuhnya dapat menimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak memberi kepercayaan, pada anak akan timbul rasa malu dan ragu-ragu.
3). Tahap Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah) usia 4-5 tahun
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orangtua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah

B. Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik sebagai suatu bidang studi tidak terlepas dari aspek yang lain. Gerak manusia dipengaruhi oleh fisik dan proses psikologis yang ada di dalamnya. Misalnya seseorang yang seseorang yang minat geraknya besar cenderung terdorong untuk melakukan aktivitas motoriknya yang lebih banyak dibandingkan orang yang kurang minatnya. Selain itu perkembangan motorik merupakan aspek perkembangan individu yang menonjol dan jelas terlihat, karena gerak merupakan sifat kehidupan. Tanpa gerak maka manusia pasti akan mati, manusia hidup karena ada gerak, seperti gerakan pernafasan, gerak peredaran darah dan gerak pencernaan makanan. Manusia bisa mempertahankan hidupnya apabila ia biasa berupaya menghidupi dirinya dan semuanya memerlukan gerakan.
Perkembangan adalah proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh ke arah keadaan yang makin terorganisasi dan terspesialisasi (Sumantri, 2005). Makin terorganisasi yaitu organ-organ tubuh makin bisa dikendalikan sesuai dengan kemampuan dan kemauan individu, dan makin terspesialisasi yaitu organ-organ tubuh bisa berfungsi sesuai dengan fungsinya masing-masing. Perkembangan bisa terjadi dalam bentuk kualitatif dan perubahan secara kuantitatif, atau kedua-duanya secara serentak.
Motorik adalah istilah umum untuk berbagai bentuk perilaku gerak manusia, dimana gerak merupakan unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak dilahirkan gerak adalah salah satu ekspresi dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Perkembangan Motorik adalah proses sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan berkesinambungan gerakan individu meningkat dari keadaan sederhana, tidak terorganisasi, tidak terampil ke arah penampilan keterampilan motorik yang kompleks dan terorganisasi dengan baik, yang pada akhirnya ke arah penyesuaian keterampilan. Pendapat lain tentang perkembangan motorik yang dikemukakan oleh Corbin (1990), yaitu perubahan kemampuan gerak dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek prilaku dan kemampuan gerak, dimana aspek perilaku dan perkembangan motorik saling mempengaruhi. Hal ini sesuai dengan prinsip perkembangan motorik anak usia dini yang normal yaitu terjadi perubahan baik fisik maupun psikis sesuai dengan masa pertumbuhannya.
Nilai-nilai yang terkandung dalam perkembangan motorik pada anak usia dini antara lain mendapatkan pengalaman yang berarti, hak dan kesempatan beraktivitas, keseimbangan jiwa dan raga, serta mampu berperan menjadi dirinya sendiri.
C. Sasaran Perkembangan Motorik Anak Usia Dini
Setiap perkembangan pada tingkatan usia anak mempunyai sasaran yang harus dicapai agar tumbuh kembang anak menjadi maksimal. Berkenaan dengan perkembangan motorik pada anak usia dini apabila anak kurang mendapat kesempatan dalam perkembangan motoriknya, maka pada tingkat perkembangan selanjutnya anak tidak akan tertarik dengan aktivitas-aktivitas jasmani. Untuk memperoleh pengalaman secara meluas maka anak perlu melakukan kegiatan bermain. Pengalaman dalam kegiatan bermain yang dilakukan anak bermanfaat bagai pengembangan anak secara maksimal. Adapun yang menjadi sasaran dalam perkembangan motorik pada anak usia dini yaitu :
1) Pengayaan keterampilan motorik kasar dan motorik halus
Secara alamiah jenis gerakan ini sudah dimiliki oleh setiap anak karena berpengaruh bagi perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini selanjutnya. Pengayaan keterampilan motorik kasar adalah kemampuan anak usia dini beraktivitas dengan menggunakan otot besar yang tergolong kepada kemampuan gerak dasar, yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Kemampuan gerak dasar ini terdiri dari 3 kategori yaitu kemampuan nonlokomotor, lokomotor, dan manipulatif. Gerak non lokomotor suatu gerakan yang tidak berpindah tempat, seperti menekuk, membungkuk, memilin, mengayun, merendahkan tubuh dan sebagainya. Gerak lokomotor adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya perpindahan tubuh seperti berjalan, berlari, melompat dan sebagainya. Sedangkan gerak manipulatif kemampuan untuk memanipulasi benda-benda di luar dirinya. Menurut Kogan (1982) keterampilan ini perlu melibatkan koordinasi antara mata-tangan dan mata-kaki seperti melempar, menangkap menendang, memukul. Manipulatif dikembangkan ketika anak menguasai macam-macam objek.
Selanjutnya keterampilan motorik halus pada anak usia dini adalah beraktivitas dengan menggunakan otot halus seperti menulis, meremas, menggenggam, menggambar, menyusun balok dan memasukkan kelereng ke dalam lubang.

2) Kesadaran Motorik
Dalam bergerak anak usia dini harus menyadari keberadaan dirinya dengan lingkungannya. Mereka harus memanfaatkan indra, mengontrol keseimbangan, mengenali ruang gerak dan memahami bagian-bagian tubuh yang dapat digerakkan. Kesadaran motorik membantu seseorang dalam menafsirkan rangsangan (stimuli) secara tepat sehingga ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan dapat menghasilkan gerakan yang efektif dan efisien.

D. Tahap Belajar Motorik
Fitts dan Posner (1967) menyatakan bahwa, sesungguhnya orang akan melalui tiga tahapan sebelum ia dapat membuat suatu gerakaan yang terampil
Tahap pertama disebut tahap kognitif, tahap ini merupakan tahap awal dalam belajar gerak dimana anak menjadi tahu tentang gerakan yang dipelajari, sedangkan penguasaan gerakannya masih belum baik karena masih dalam taraf mencoba-coba. Pada tahap ini proses belajar dimulai dengan aktif berpikir tentang gerakan yang dipelajari, sehingga anak berusaha mengetahui dan memahami gerakan dari informasi yang diberikan padanya. Informasi bisa bersifat verbal maupun visual.
Tahap kedua disebut tahap asosiatif, tahap ini ditandai dengan tingkat penguasaan gerakan dimana anak sudah mampu melakukan gerakan-gerakan dalam bentuk rangkaian yang tidak tersendat-sendat pelaksanaanya. Dengan tetap mempraktekkannya berulang-ulang. Pada tahap ini perkembangan anak mulai usia dini sedang memasuki masa pemahaman dan gerakan-gerakan yang sedang dipelajari dengan merangkaikan bagian-bagian gerakan menjadi rangkaian gerakan secara terpadu untuk menguasai berbagai gerakan keterampilan.
Tahap ketiga disebut tahap otomatisasi, tahap ini ditandai dengan tingkat penguasaan gerakkan dimana anak mampu melakukan gerakan keterampilan secara otomatis dengan baik dan benar.
Berdasarkan tahap-tahap dalam belajar gerak, guru dapat merangsang perkembangan motorik anak sesuai dengan tahapan – tahapan belajar motorik sehingga anak dapat menguasai keterampilan geraknya dengan baik sesuai dengan usia anak.

E. Tingkat Perkembangan Motorik
Dalam pengembangan keterampilan motorik anak usia dini perlu juga diperhatikan tingkat belajar motorik anak, sebab kita mendidik anak usia dini melalui kegiatan motorik. Anak akan bergairah menerima aktivitas karena sesuai dengan apa yang disukainya. Selanjutnya menurut Gallahue (1998) ada 5 tingkat dalam belajar motorik yaitu :
1) Tingkat penjelajahan (exploration)
2) Tingkat penemuan (discovery)
3) Tingkat gabungan (coordination)
4) Tingkat pemilihan (selection)
5) Tingkat penghalusan (refine)

Tingkat penjelajahan, bahwa anak dalam mempelajari sesuatu dengan mencoba mencoba mencari apa yang akan dikerjakan. Seperti mengembangkan kegiatan berjalan, guru tidak memberikan contoh cara berjalan, tetapi ia akan mencari sendiri bagaiman macam jalan, dan bagi anak kegiatan pengembangan ini akan disukai, karena dipercayakan uantuk menciptakan dan menjelajah sendiri apa yang ditugaskan padanya.
Tingkat penemuan, yang merupakan tingkat lanjut dari penjelajahan. Bila mereka telah menemukan berbagai cara jalan, yang sudah diberikan berbagai kecepatan, berbagai arah, berbagai irama, berbagai lingkungan, maka anak akan menemukan bagaimana cara yang paling bagus dalam jalan tersebut dan yang mana akan dipergunakan.
Tingkat penggabungan, merupakan gabungan dari tingkat penjelajahan dan tingakat penemuan, seperti anak akan menggabungkan gerakan berjalan, berlari dengan mengayunkan tangan, memegang dan melempar bola.
Tingkat pemilihan dan penghalusan, tingkatan ini biasanya mulai diberikan pada pemilihan suatu kegiatan olahraga atau teknik kecabangan, biasanya pada anak kelas 5 SD sampai SMP. Pada tingkat ini adalah pemilihan salah satu teknik tertentu yang akan dipergunakan pada cabang olahraga tertentu.
Tingkat penghalusan adalah tahap dalam melanjutkan latihan atau aktivitas gerak yang sudah diajarkan sebelumnya, yaitu proses seleksi. Pada tingkat ini guru berusaha bagaimana anak akan berprestasi pada salah satu cabang olahraga tertentu.
Berdasarkan tingkatan-tingkatan perkembangan motorik yang telah dikemukakan di atas guru sudah dapat memahami dan menerapkan dalam pengembangan motorik dengan memberikan aktivitas sesuai dengan tingkatan agar tujuan dapat tercapai. Untuk usia dini tahap belajar hanya sampai pada tahap penggabungan dengan gerakan-gerakan yang sederhana sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Semua bahan pengembangan dapat diberikan di mana saja tetapi tujuan yang akan dicapai tidak akan diperoleh karena tidak sesuai dengan tingkat perkembangan pertumbuhan, tingkat belajar sehingga kegiatan pengembangan tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya..

F. Aktivitas-aktivitas anak usia dini
Agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya perlu diperhatikan sifat pertumbuhan dan perkembangan yang ada pada diri mereka. Sifat-sifat tersebut digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan kondisi yang sesuai bagi anak-anak dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Aktivitas yang perlu diberikan kepada mereka sebagai berikut:
1) Aktivitas fisik yang cukup atau gerakan yang memerlukan penggunaan otot-otot besar.
Contoh :
a. Berlari – larian atau berkejar- kejaran
b. Bemanjat atau bergelantung
c. Berguling-guling di matras
d. Merangkak
2) Permainan sederhana yang hanya memerlukan penjelasan sedikit, pengorganisasian yang sederhana, dan tidak terlalu lama untuk setiap macam permainan.
Contoh :
a. Permainan sembunyi-sembunyian
b. Permainan gerak dan lagu sederhana
3) Kesempatan mencoba-coba berbuat sesuatu dan meniru gerakan –gerakan
Contoh:
a. Mencoba gerakan yang memerlukan keterampilan gerak dasar dan menggunakan alat-alat sederhana
b. Bermain bola menggunakan kaki dan tangan dengan caranya masing-masing
c. Mengatasi rintangan dengan gerkan meloncat, menerobos atau mengitari sesuatu menurut caranya msing-masing.
d. Bermain dengan menggunakan alat-alat sederhana dengan caranya masing-masing, misalnya menggunakan pemukul untuk memukul-mukul bola
e. Bermain menirukan gerakan binatang
f. Berjalan menirukan jalannya gajah atau ular
g. Berlari menirukan larinya kuda
h. Berloncat menirukan kata meloncat

4) Belajar bekerja sama dan berusaha bersama dengan teman-temannya.
Contoh :
a. Bermain-main bola dalam kelompok dengan cara melempar atau menyepak.
b. Bermain dalam bentuk lomba antar kelompok, misalnya lari estafet, lomba menggulirkan bola secara estafet
5) Kesempatan menggunakan sarana bermain dengan berbagai ukuran , mula-mula memainkan objek yang agak besar kemudian ke objek yang semakin kecil.
Dari berbagai aktivitas-aktivitas yang telah diuarikan di atas, masih banyak lagi aktivitas yang dapat dikembangkan dan dimodifikasi oleh guru yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dengan memodifikasi sarana dan prasarana yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.














PENUTUP
Pengembangan keterampilan motorik pada anak usia dini pada dasarnya merupakan kegiatan yang mengaktualisasikan seluruh potensi anak berupa sikap, tindak dan karya yang diberi bentuk, isi dan arah menuju kebulatan pribadi sesuai dengan cita-cita manusia. Oleh karena itu pengembangan keterampilan motorik dapat diartikan bagian dari pendidikan terutama melalui pengalaman-pengalaman gerak, terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh.
Aktivitas fisik dan olahraga di masa yang akan datang mungkin sangat berbeda dengan aktifitas fisik olahraga yang ada dan populer pada masa sekarang. Oleh karena itu pembinaan perkembangan keterampilan motorik selayaknya mempersiapkan anak didik dengan keterampilan-keterampilan gerak dasar yang sangat dibutukan untuk setiap aktivitas fisik anak .
Penguasaan berbagai keterampilan gerak pada anak usia dini akan mendorong perkembangan dan perbaikan berbagai keterampilan fisik yang lebih kompleks, yang pada akhirnya akan membantu mereka memperoleh kepuasan dan kesenangan melakukan aktivitas fisik. Untuk para pendidik dalam hal ini guru dan orang tua harus dapat mengembangkan berbagai aktivitas fisik yang dapat mendorong anak untuk penguasaan gerak yang lebih baik.










DAFTAR PUSTAKA

1. Ali Husein, 2002. Model Pengembangan Motorik Anak Balita. Jakarta: Direktorat Olahraga Masyarakat.

2.. Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, 2004. Apa, Mengapa dan Siapa Yang Bertanggung Jawab terhadap Program Pendidikan anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional .

3. Fitts and Posner, 1993 Teaching Physical Education for Learning St. Louis : Mosby.

4. Gallahue, L. David, 1997. Motor Develovement . Boston : McGraw Hill
5. Sumantri, 2005 . Model Pengembangan Keterampilan Motorik anak Usia Dini.Jakarta :Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi

Minggu, 20 Juni 2010

KONSEP DAN FALSAFAH PENJAS, OLAHRAGA, PLAY DAN GAMES SERTA IMPLEMENTASINYA

A. Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya. Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia. Lebih khusus lagi, penjas berkaitan dengan hubungan antara gerak manusia dan wilayah pendidikan lainnya: hubungan dari perkembangan tubuh-fisik dengan pikiran dan jiwanya. Fokusnya pada pengaruh perkembangan fisik terhadap wilayah pertumbuhan dan perkembangan aspek lain dari manusia itulah yang menjadikannya unik. Tidak ada bidang tunggal lainnya seperti pendidikan jasmani yang berkepentingan dengan perkembangan total manusia.
Pendidikan jasmani diartikan dengan berbagai ungkapan dan kalimat. Namun esensinya sama, yang jika disimpulkan bermakna jelas, bahwa pendidikan jasmani memanfaatkan alat fisik untuk mengembangan keutuhan manusia. Dalam kaitan ini diartikan bahwa melalui fisik, aspek mental dan emosional pun turut terkembangkan, bahkan dengan penekanan yang cukup dalam. Berbeda dengan bidang lain, misalnya pendidikan moral, yang penekanannya benar-benar pada perkembangan moral, tetapi aspek fisik tidak turut terkembangkan, baik langsung maupun secara tidak langsung. Karena hasil-hasil kependidikan dari pendidikan jasmani tidak hanya terbatas pada manfaat penyempurnaan fisik atau tubuh semata, definisi penjas tidak hanya menunjuk pada pengertian tradisional dari aktivitas fisik. Kita harus melihat istilah pendidikan jasmani pada bidang yang lebih luas dan lebih abstrak, sebagai satu proses pembentukan kualitas pikiran dan juga tubuh. Pendidikan jasmani ini karenanya harus menyebabkan perbaikan dalam ‘pikiran dan tubuh’ yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif, dan afektif. Dengan meminjam ungkapan Robert Gensemer, penjas diistilahkan sebagai proses menciptakan “tubuh yang baik bagi tempat pikiran atau jiwa.” Artinya, dalam tubuh yang baik ‘diharapkan’ pula terdapat jiwa yang sehat, sejalan dengan pepatah Romawi Kuno: Men sana in corporesano.

B. Hubungan Bermain/Games dan Olahraga
Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual.
Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.
Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif. Ketika kita menunjuk pada olahraga sebagai aktivitas kompetitif yang terorganisir, kita mengartikannya bahwa aktivitas itu sudah disempurnakan dan diformalkan hingga kadar tertentu, sehingga memiliki beberapa bentuk dan proses tetap yang terlibat.
Peraturan, misalnya, baik tertulis maupun tak tertulis, digunakan atau dipakai dalam aktivitas tersebut, dan aturan atau prosedur tersebut tidak dapat diubah selama kegiatan berlangsung, kecuali atas kesepakatan semua pihak yang terlibat. Di atas semua pengertian itu, olahraga adalah aktivitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
Di pihak lain, pendidikan jasmani mengandung elemen baik dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya. Sebagaimana dimengerti dari kata-katanya, pendidikan jasmani adalah aktivitas jasmani yang memiliki tujuan kependidikan tertentu. Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan penjas dilaksanakan untuk mendidik. Hal itu tidak bisa berlaku bagi bermain dan olahraga, meskipun keduanya selalu digunakan dalam proses kependidikan.
Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan kependidikan. Misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya. Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif; keduanya dapat dan harus beriringan bersama.

C. Perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh guru-guru penjas belakangan ini adalah : “Apakah pendidikan jasmani?” Pertanyaan yang cukup aneh ini justru dikemukakan oleh yang paling berhak menjawab pertanyaan tersebut.
Hal tersebut mungkin terjadi karena pada waktu sebelumnya guru itu merasa dirinya bukan sebagai guru penjas, melainkan guru pendidikan olahraga. Perubahan pandangan itu terjadi menyusul perubahan nama mata pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, dari mata pelajaran pendidikan olahraga dan kesehatan (orkes) dalam kurikulum 1984, menjadi pelajaran “pendidikan jasmani dan kesehatan” (penjaskes) dalam kurikulum1994.
Perubahan nama tersebut tidak dilengkapi dengan sumber belajar yang menjelaskan makna dan tujuan kedua istilah tersebut. Akibatnya sebagian besar guru menganggap bahwa perubahan nama itu tidak memiliki perbedaan, dan pelaksanaannya dianggap sama. Padahal muatan filosofis dari kedua istilah di atas sungguh berbeda, sehingga tujuannya pun berbeda pula. Pertanyaannya, apa bedanya pendidikan olahraga dengan pendidikan jasmani ?
Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Mendidik apa ? Paling tidak fokusnya pada keterampilan anak. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial.
Karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga tadi lebih penting dari pada hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid lainnya, harus menjadi pertimbangan utama.
Adapun pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai cabang-cabang olahraga tertentu. Kepada murid diperkenalkan berbagai cabang olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang ditekankan di sini adalah ‘ hasil ‘ dari pembelajaran itu, sehingga metode pengajaran serta bagaimana anak menjalani pembelajarannya didikte oleh tujuan yang ingin dicapai. Ciri-ciri pelatihan olahraga menyusup ke dalam proses pembelajaran.
Yang sering terjadi pada pembelajaran ‘pendidikan olahraga‘ adalah bahwa guru kurang memperhatikan kemampuan dan kebutuhan murid. Jika siswa harus belajar bermain bola voli, mereka belajar keterampilan teknik bola voli secara langsung. Teknik-teknik dasar dalam pelajaran demikian lebih ditekankan, sementara tahapan penyajian tugas gerak yang disesuaikan dengan kemampuan anak kurang diperhatikan.
Guru demikian akan berkata: “kalau perlu tidak usah ada pentahapan, karena anak akan dapat mempelajarinya secara langsung. Beri mereka bola, dan instruksikan anak supaya bermain langsung”. Anak yang sudah terampil biasanya dapat menjadi contoh, dan anak yang belum terampil belajar dari mengamati demonstrasi temannya yang sudah mahir tadi. Untuk pengajaran model seperti ini, ada ungkapan: “Kalau anda ingin anak-anak belajar renang, lemparkan mereka ke kolam yang paling dalam, dan mereka akan bisa sendiri“.






Tabel di bawah menekankan perbedaan antara pendidikan jasmani dengan pendidikan olahraga.
Perbedaan antara Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Olahraga
Pendidikan Jasmani Pendidikan Olahraga
• Sosialisasi atau mendidik via olahraga
• Menekankan perkembangan kepribadian menyeluruh
• Menekankan penguasaan keterampilan dasar. • Sosialisasi atau mendidik ke dalam olahraga
• Mengutamakan penguasaan keterampilan berolahraga
• Menekankan penguasaan teknik dasar

Pendidikan jasmani tentu tidak bisa dilakukan dengan cara demikian. Pendidikan jasmani adalah suatu proses yang terencana dan bertahap yang perlu dibina secara hati-hati dalam waktu yang diperhitungkan.
Bila orientasi pelajaran pendidikan jasmani adalah agar anak menguasai keterampilan berolahraga, misalnya sepak bola, guru akan lebih menekankan pada pembelajaran teknik dasar dengan kriteria keberhasilan yang sudah ditentukan. Dalam hal ini, guru tidak akan memperhatikan bagaimana agar setiap anak mampu melakukannya, sebab cara melatih teknik dasar yang bersangkutan hanya dilakukan dengan cara tunggal. Beberapa anak mungkin bisa mengikuti dan menikmati cara belajar yang dipilih guru tadi. Tetapi sebagian lain merasa selalu gagal, karena bagi mereka cara latihan tersebut terlalu sulit, atau terlalu mudah.
Anak-anak yang berhasil akan merasa puas dari cara latihan tadi, dan segera menyenangi permainan sepak bola. Tetapi bagaimana dengan anak-anak lain yang kurang berhasil? Mereka akan serta merta merasa bahwa permainan sepak bola terlalu sulit dan tidak menyenangkan, sehingga mereka tidak menyukai pelajaran dan permainan sepak bola tadi. Apalagi bila ketika mereka melakukan latihan yang gagal tadi, mereka selalu diejek oleh teman-teman yang lain atau bahkan oleh gurunya sendiri.
Anak-anak dalam ‘kelompok gagal’ ini biasanya mengalami perasaan negatif. Akibatnya, citra diri anak tidak berkembang dan anak cenderung menjadi anak yang rendah diri.
Melalui pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif, semua kecenderungan tadi bisa dihapuskan, karena guru memilih cara agar anak yang kurang terampil pun tetap menyukai latihan memperoleh pengalaman sukses. Di samping guru membedakan bentuk latihan yang harus dilakukan setiap anak, kriteria keberhasilannya pun dibedakan pula. Untuk ‘kelompok mampu’ kriteria keberhasilan lebih berat dari anak yang kurang mampu, misalnya dalam pelajaran renang di tentukan: mampu meluncur 10 meter untuk anak mampu, dan hanya 5 meter untuk anak kurang mampu.
Dengan cara demikian, semua anak merasakan apa yang disebut “perasaan berhasil” tadi, dan anak makin menyadari bahwa kemampuannya pun meningkat, seiring dengan seringnya mereka mengulang-ulang latihan. Cara ini disebut gaya mengajar ‘partisipatif’ karena semua anak merasa dilibatkan dalam proses pembelajaran.
Untuk mencegah terjadinya bahaya lain dari kegagalan, guru pendidikan jasmani harus mengembangkan cara respons siswa terhadap anak yang gagal dan melarang siswa untuk melemparkan ejekan pada temannya.
D. Implementasi Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Meningkatkan kualitas hidup siswa dan mutu sumber daya manusia di masa depan Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Penjas-Or) merupakan bagian dari kurikulum standar Lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah. Dengan pengelolaan yang tepat, maka pengaruhnya bagi pertumbuhan dan perkembangan Jasmani, Rohani dan Sosial Peserta didik tidak pernah diragukan. Sayangnya Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga-lembaga Pendidikan ini belum dapat memposisikan dirinya pada tempat yang terhormat, bahkan masih sering dilecehkan, misalnya pada masa-masa menjelang ujian akhir sesuatu jenjang Pendidikan maka Pendidikan Jasmani dan Olahraga dihapuskan dengan alasan agar para siswa dalam belajarnya untuk menghadapi ujian akhir “tidak terganggu”. Untuk memahami hal ini perlu lebih dahulu difahami apa yang menjadi dasar bagi perlunya diselenggarakan Penjas-Or di Sekolah.
Makna dan Misi Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan.
Lembaga Pendidikan adalah Lembaga formal yang terpenting untuk pembinaan mutu sumber daya manusia. Dalam Lembaga Pendidikan, siswa dibina untuk menjadi sumber daya manusia yang unggul dalam aspek jasmani, rohani dan sosial melalui berbagai bentuk media pendidikan dan keilmuan yang sesuai. Acuan tertinggi mutu sumber daya manusia adalah SEHAT WHO yaitu sumber daya manusia yang Sejahtera jasmani, rohani dan sosial, bukan hanya bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan. Pendidikan Jasmani adalah kegiatan jasmani yang diselenggarakan untuk menjadi media bagi kegiatan pendidikan. Pendidikan adalah kegiatan yang merupakan proses untuk mengembangkan kemampuan dan sikap rohaniah yang meliputi aspek mental, intelektual dan bahkan spiritual. Sebagai bagian dari kegiatan pendidikan, maka pendidikan jasmani merupakan bentuk pendekatan ke aspek sejahtera Rohani (melalui kegiatan jasmani), yang dalam lingkup sehat WHO berarti sehat rohani. Olahraga adalah kegiatan pelatihan jasmani, yaitu kegiatan jasmani untuk memperkaya dan meningkatkan kemampuan dan ketrampilan gerak dasar maupun gerak ketrampilan (kecabangan olahraga). Kegiatan itu merupakan bentuk pendekatan ke aspek sejahtera jasmani atau sehat jasmani yang berarti juga sehat dinamis yaitu sehat yang disertai dengan kemampuan gerak yang memenuhi segala tuntutan gerak kehidupan sehari-hari, artinya ia memiliki tingkat kebugaran jasmani yang memadai.
Olahraga masal adalah bentuk kegiatan olahraga yang dapat dilakukan oleh sejumlah besar orang secara bersamaan atau yang biasa disebut sebagai olahraga masyarakat yang hakekatnya adalah olahraga kesehatan, sebab dalam melakukan kegiatan olahraga tersebut hanya satu tujuannya yaitu memelihara atau meningkatkan derajat sehat dinamisnya. Olahraga masyarakat atau olahraga kesehatan dengan demikian merupakan bentuk olahraga yang dapat mewujudkan kebersamaan dan kesetaraan dalam berolahraga, oleh karena pada olahraga itu tidak ada tuntutan ketrampilan olahraga tertentu. Dengan demikian maka olahraga kesehatan atau olahraga masyarakat merupakan bentuk pendekatan ke aspek sejahtera sosial sehat sosial sama dengan kebugaran sosial. Demikianlah maka Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga Pendidikan mempunyai tujuan membina mutu sumber daya manusia seutuhnya yaitu manusia yang sehat atau bugar seutuhnya atau sejahtera seutuhnya yaitu sejahtera jasmani, rohani dan sosial sesuai rumusan sehat WHO.

1. Sehat dan Kesehatan
Sehat adalah kebutuhan dasar bagi segala aktivitas kehidupan. Jadi sehat harus dipelihara dan bahkan ditingkatkan. Cara terpenting, termurah dan fisiologis adalah melalui Olahraga Kesehatan. Dalam hubungan dengan nikmatnya kebutuhan dasar ini maka seluruh Siswa atau Peserta didik memerlukan Olahraga baik sebagai konsumsi yaitu mendapatkan manfaatnya langsung dari melakukan kegiatan Olahraga, maupun kegiatan Olahraga sebagai media bagi Pendidikannya.
Lembaga Pendidikan adalah Lembaga formal terpenting yang membina mutu sumber daya manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengemukakan bahwa Sehat adalah : Sejahtera Jasmani, Rohani dan Sosial, bukan hanya bebas dari Penyakit, Cacat ataupun Kelemahan. Dalam kaitan dengan hal ini maka Pendidikan Jasmani dan Olahraga khususnya di lingkungan Lembaga Pendidikan, harus diselaraskan untuk mencapai tujuan sehat. Pendidikan Jasmani dan Olahraga membina mutu sumber daya manusia melalui pendekatan kepada aspek Jasmani. Pada dasarnya tujuan pembinaan-pemeliharaan Kesehatan adalah memelihara dan atau meningkatkan kemandirian dalam peri kehidupan bio-psiko-sosiologisnya, yaitu secara biologis menjadi lebih mampu menjalani kehidupan pribadinya secara mandiri, tidak tergantung pada bantuan orang lain; secara psikologis menjadi lebih mampu memposisikan diri dalam hubungannya dengan Tuhan semesta alam beserta seluruh ciptaanya berupa flora maaupun fauna (termasuk manusia); dan secara sosiologis menjadi lebih mampu bersosialisasi dengan masyarakat lingkungannya. Perkembangan anak adalah masa pembentukan pola perilaku dan masa terjadinya internalisasi nilai-nilai sosial dan kultural.
Perlu juga ditanamkan kesadaran untuk mau melakukan upaya-upaya untuk menyegarkan suasana kehidupan, mencerdaskan kemampuan intelektual dan menghilangkan sebanyak mungkin stress, serta dengan meningkatkan volume dan kualitas pemahaman dalam peri kehidupan beragama beserta peningkatan kualitas pelaksanaan ibadahnya. Olahraga baik sebagai kegiatan maupun sebagai media Pendidikan mempunyai potensi yang besar untuk menyumbangkan kontribusinya dalam masalah ini. Melalui Olahraga dapat dengan mudah ditunjukkan betapa terbatasnya kemampuan manusia, betapa perlu kita memelihara lingkungan hidup kita, betapa banyak hal yang di luar kemampuan akal manusia dan betapa perlu kita mencegah kerusakan dan perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kerusakan di muka bumi. Kesejahteraan jasmaniah ditingkatkan dengan Olahraga Kesehatan, untuk meningkatkan derajat Kesehatan dinamis, sehingga orang bukan saja sehat dikala diam (Sehat statis) tetapi juga sehat serta mempunyai kemampuan gerak yang dapat mendukung setiap aktivitas dalam peri kehidupannya sehari-hari (Sehat dinamis). Olahraga Kesehatan umumnya bersifat masal sehingga lebih menarik, semarak serta menggembirakan (aspek Rohaniah), seperti yang terjadi pada pelaksanaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Lembaga-lembaga Pendidikan. Berkelompok merupakan sarana dan rangsangan untuk meningkatkan kesejahteraan Sosial, oleh karena masing-masing individu akan bertemu dengan sesamanya, sedangkan suasana lapangan pada Olahraga (Kesehatan) akan sangat mencairkan kekakuan yang disebabkan oleh adanya perbedaan status intektual dan sosial-ekonomi para pelakunya.
Oleh karena itu Olahraga Kesehatan hendaknya dijadikan materi pokok dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Sekolah. Dampak psikologis yang sangat positif dengan diterapkannya Olahraga Kesehatan sebagai materi pokok olahraga di Sekolah adalah rasa kebersamaan dan kesetaraan di antara sesama siswa oleh karena mereka semua merasa mampu melakukan Dampak dari rasa terpinggirkan ialah timbulnya kebencian terhadap olahraga. Kondisi demikian merupakan kondisi psikologis yang sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan dan penyebar-luasan olahraga di masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik maka suasana lapangan dikala melakukan olahraga kesehatan, akan sangat meningkatkan gairah dan semangat hidup para Pelakunya. Demikianlah maka potensi Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Kesehatan) sangat perlu difahami oleh semua fihak yang berkepentingan dalam pembinaan Peserta didik. Oleh karena itu pula maka tanpa Pendidikan Jasmani dan Olahraga, maka sesungguhnya Pendidikan menjadi tidak lengkap.
Olahraga kesehatan yang disajikan haruslah yang bersifat masal dan memenuhi ciri olahraga kesehatan misalnya : jalan cepat atau lari lambat (jogging), senam aerobik, pencak-silat, karate dan sejenisnya. Tiga yang terakhir lebih baik dari pada yang pertama oleh karena dapat menjangkau semua sendi dan otot serta dapat merangsang proses berpikir Pelakunya. Kalaupun olahraga yang akan disajikan adalah bentuk permainan, maka permainan itu harus dapat melibatkan seluruh siswa. Tidak boleh ada seorangpun siswa yang hanya menjadi penonton, kecuali yang sakit.

2. Pembangunan Olahraga Indonesia
Lewat pendidikan jasmani yang serius dijalankan Departemen Pendidikan sejak sekolah dasar sampai universitas, kami menemukan bibit-bibit atlet. Agar bibit-bibit itu muncul, tentu diperlukan kurikulum yang jelas mengenai pendidikan jasmani (penjas), tenaga pengajar penjas yang kapabel, fasilitas olahraga di sekolah-sekolah, dan adanya kegiatan pertandingan serta aktivitas olahraga baik, internal (intramural) maupun antarsekolah (ekstramural).
Dasar Sukan Negara Malaysia 1988 tegas-tegas mengkategorikan olahraga dalam dua bagian, yakni ''sukan untuk semua (sport for all)'' dan ''sukan prestasi tinggi''. Sukan untuk semua mencakup dua hal, yakni olahraga pendidikan dan olahraga rekreasi, sedangkan sukan prestasi tinggi mencakup olahraga amatir dan olahraga profesional. Olahraga rekreasi adalah aktivitas olahraga yang diselenggarakan untuk menggalakkan minat dan kegembiraan pelakunya. Olahraga rekreasi terbagi dalam lima kelompok yakni, (1) olahraga instruksional, (2) informal, (3) intramural, (4) ekstramural, (5) olahraga di klub. Bentuk permainan di setiap bagian tidaklah sama, bergantung pada kemampuan para pesertanya.
Fokus olahraga amatir adalah membimbing atlet mencapai prestasi tertinggi.
Menjadi juara adalah tujuan utama olahraga amatir. Peserta olahraga amatir di bawah bimbingan pelatih selalu mengutamakan pencapaian prestasi maksimal. Olahraga amatir mendapat dukungan dari pemerintah dan memperoleh bantuan keuangan negara. Olahraga profesional adalah olahraga komersial yang menekankan pada unsur hiburan dan menyediakan hadiah uang bagi sang juara. Peserta boleh didukung perusahaan-perusahaan swasta. Berolahraga adalah pekerjaan utama atlet profesional. Penonton adalah faktor penting dalam olahraga profesional sebab penjualan tiket pertandingan amat mempengaruhi bisnis ini.
Kunci yang tidak kalah penting adalah kerja sama dan komunikasi antar lembaga terkait.
Olahraga tidak hanya menjadi tanggung jawab kementerian olahraga, tapi harus menjadi political will dari pemerintah. Sekarang saya sedang menggarap pembangunan olahraga di Brunei Darussalam dan Singapura

3. Olahragakan Masyarakat
Dibandingkan Malaysia, minat masyarakat Indonesia berolahraga pasti lebih besar. Kami harus bekerja ekstrakeras meyakinkan masyarakat agar melakukan aktivitas olahraga (sports for all). Masyarakat yang giat berolahraga merupakan modal tersendiri bagi pembangunan olahraga di sebuah negara sekaligus investasi intangible sumber daya masyarakat. Sebagai guru pendidikan jasmani, saya melihat tiga hal yang harus dibangun serentak, yakni sport for all, elite sport, dan sport industry. Masyarakat yang aktif berolahraga pasti akan memberikan dukungan kepada anak atau sanak keluarganya saat mereka menekuni olahraga yang diminati.
Atlet yang berbakat yang merupakan produk masyarakat dan sekolah, dimasukkan dalam kategori elite sport. Mereka yang masuk kategori elite sport dipersiapkan mengharumkan nama bangsa Malaysia lewat olahraga. Merekalah ujung tombak dalam pesta olahraga multicabang. Prestasi di multicabang akan mengangkat kebanggaan orang terhadap olahraga. Jika kondisi itu terus terpelihara, secara otomatis industri olahraga akan berjalan. Jadi, jangan pernah berharap industri olahraga akan berjalan mulus tanpa memiliki iklim kondusif lewat masyarakat yang aktif berolahraga dan mempunyai prestasi olahraga internasional. Bagaimana menggerakkan masyarakat agar berolahraga? Itu adalah hal spesifik di setiap negara. Namun, harus ada campur tangan pemerintah agar masyarakat Indonesia bergiat olahraga. Menurut dugaan saya, masyarakat Indonesia pasti sedang mengalami penurunan aktivitas berolahraga (BOLA akhirnya memberikan informasi bahwa berdasarkan data Sports Development Index atau SDI keluaran Menegpora, dugaan Dato’ de Vries tepat).
Di Malaysia, universitas dan perguruan tinggi menunjukkan kepedulian yang besar pada olahraga. Kami fokus pada 13 cabang olahraga yang bisa memberikan medali bagi Malaysia di pesta olahraga regional maupun internasional. Mereka melakukan kajian-kajian dan riset terhadap cabang olahraga yang diminati. Targetnya, pada 2008 sekitar 30% perguruan tinggi dan universitas menjadi pusat penelitian untuk cabang-cabang olahraga unggulan.
Menggunakan pendekatan sains olahraga untuk cabang-cabang unggulan.
Para pakar sains olahraga kami siapkan untuk masing-masing induk organisasi olahraga. Di masing-masing negara bagian, kami mendirikan lembaga kajian sains olahraga dan manajemen olahraga. Tentu saja kami melibatkan perguruan-perguruan tinggi di negara-negara bagian itu.
Melakukanlah penelitian-penelitian olahraga yang aplikatif untuk cabang-cabang yang dikuasai Indonesia. Bagi saya, adanya pendekatan sains olahraga dan banyaknya penelitian aplikatif akan berdampak pada revolusi pemikiran, perilaku, dan aksi insan olahraga di Malaysia di masa depan. Revolusi pemikiran itu akan terjadi dalam tataran budaya olahraga, intelektualitas, dan sportivitas. Sportivitas dan intelektualitas yang mengakar pada diri pelaku olahraga Indonesia, baik sekadar penggembira maupun atlet, adalah modal berharga bagi perkembangan olahraga masa depan Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Bucher, Charles A. (1979). Foundations of Physical Education, (8th Ed.), St. Louis, MI., Mosby Company.
Buscher, Craig A. (1994). Teaching Children Movement Concepts and Skills, Champaign, III. : Human Kinetics Publisher, Inc.,
Dauer, V., & Pangrazi, R. (1986). Dynamic Physical Education For Elementary School Children, (8th Ed.), New York: Macmillan
Freeman, William H. (2001). Physical Education and Sport in A Changing Society. (Sixth Ed.). Boston. Allyn and Bacon.
Gabbard, Carl., LeBlanc, Betty., and Lowy, Susan. (1994). Physical Education for Children: Building the Foundation, (2nd Ed.), New Jersey: Prentice Hall.
Graham, G. (1992). Teaching Children Physical Education, Becoming Master Teacher, Champaign, III. : Human Kinetics Publisher, Inc.,
Kogan, Sheila. (1982). Step By Step: A Complete Movement Education Curriculum From Preschol to 6th Grade, California: Front Row Experience.
Malina, R., & Bouchard, C. (1978) Growth, Maturation and Physical Activity, Champaign, III: Human Kinetic Publisher, Inc.
Siendtop, D. (1991). Developing Teaching Skill in Physical Education, 3rd Ed., Palo Alto, CA: Mayfield.
Tinning, R., Mcdonald, D., Wright, J., and Hickey, C. (2001). Becoming Physical Education Teacher: Contemporary and Enduring Issues. Frenchs Forest, NSW. Prentice Hall.





TUGAS TENTANG SPORT, PLAY, GAMES DAN SPORT EDUCATION
Mata Kuliah AZAS DAN FALSAFAH OLAHRAGA


OLEH :
AMANSYAH
No. Registrasi : 7216090078
POR-A


Program Pasca Sarjana
Jurusan Pendidikan Olahraga (S-2)
Universitas Negeri Jakarta
2010