Senin, 21 Juni 2010

PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA DINI




PENDAHULUAN

Pada saat ini di Indonesia pengembangan dan pembinaan potensi anak usia dini tengah mendapat pembinaan serius dari sejumlah pihak khususnya pemerintah, hal ini didasarkan bahwa untuk mewujudkan generasi penerus yang unggul, anak usia dini benar-benar dipersiapkan perkembangan dan pembinaanya secara maksimal, untuk dapat menghadapi tantangan kehidupan di masa yang akan datang. Aspek-aspek pembinaan dan perkembangan yang perlu diperhatikan pada anak usia dini yaitu kognitif, bahasa, sosial, moral, emosi, kepribadian serta keterampilan motorik, sebagaimana tertuang dalam Konfrensi Genewa tahun 1997, agar aspek dapat berkembang dengan baik, maka diperlukan sistem pembinan yang berkualitas terutama sekali aspek perkembangan motorik.
Anak usia dini berada pada masa lima tahun pertama (the Golden Years), pada masa perkembangan anak (Hussein, 2002). Anak pada usia tersebut mempunyai potensi besar untuk mengoptimalkan segala aspek perkembangannya, termasuk perkembangan motorik sebagai perkembangan unsur kematangan dan pengendalian gerak tubuh. Anak usia dini memiliki energi yang cukup tinggi. Kegiatan fisik dan pelepasan energi dalam jumlah besar merupakan ciri aktivitas pada anak usia dini. Karena energi yang dimiliki anak dalam jumlah besar tersebut memerlukan penyaluran dalam beraktifitas Energi tersebut diperlukan untuk melakukan berbagai kegiatan untuk melakukan aktivitas fisik dan aktivitas lainnya. Baik yang berkaitan dengan keterampilan motorik kasar, seperti berlari, melompat, bergantung, melempar dan menendang bola, maupun keterampilan motorik halus seperti menguatkan jari-jari untuk menyusun puzzle, memilih balok, dan menyusunnya menjadi bangunan tertentu.
Perkembangan motorik anak usia dini sering terabaikan ataupun dilupakan oleh orang tua, pembimbing bahkan guru sendiri, hal ini disebabkan mereka belum memahami bahwa perkembangan motorik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan anak. Berdasarkan hal tersebut perlu pengembangan keterampilan motorik anak usia dini, agar semua pihak yang berkepentingan seperti guru, orang tua dapat memahami dan menerapkan pada anak didiknya.






















PEMBAHASAN

A. Lingkup Anak Usia Dini
Banyak klasifikasi tentang anak usia dini. Secara umum batasan yang dipakai usia 8 tahun ke bawah. Di Indonesia ada beberapa hakekat yang harus dicermati bagaimana memahami anak usia dini antara lain :
1). Anak usia dini adalah kelompok manusia yang berusia 0-6 tahun (UU No 20 tahun 2003). Tetapi para pakar pendidikan anak usia dini menyebutkan yang berusia antara 0-8 tahun.
2). Anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam poses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Artinya memiliki pertumbuhan dan perkembangan fisik ( koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional, bahasa dan komunikasi yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang sedang dilalui oleh anak tersebut.
3). Berdasarkan keunikan dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia dini dibagi menjadi tiga tahap yaitu usia, masa toddler 0-3 tahun, masa pra sekolah usia 3-6 tahun, masa kelas awal SD usia 6-8 tahun ( sumber :Direktorat Pendidikan anak Usia Dini, 2004).
Pendapat lain tentang batasan anak usia dini yang dikemukakan oleh Beeker, yaitu anak usia dini adalah anak yang dikelompokkan ke dalam usia 3-6 tahun, anak tersebut biasanya mengikuti program pendidikan dini. Sementara Eric dalam Sumantri (2005), membagi tahap perkembangan yang terkait dengan masa kanak-kanak sebagai berikut :
1). Tahap Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga) usia 0-2 tahun
Dalam tahap ini bila ada respon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenangkan akan tumbuh percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan curiga.
2). Tahap Autonomy vs Shame & Doublt (mandiri vs ragu) usia 2-3 tahun.
Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh ototnya - otot tubuhnya. Anak pada masa ini bila sudah mampu menguasai anggota tubuhnya dapat menimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak memberi kepercayaan, pada anak akan timbul rasa malu dan ragu-ragu.
3). Tahap Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah) usia 4-5 tahun
Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orangtua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah

B. Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik sebagai suatu bidang studi tidak terlepas dari aspek yang lain. Gerak manusia dipengaruhi oleh fisik dan proses psikologis yang ada di dalamnya. Misalnya seseorang yang seseorang yang minat geraknya besar cenderung terdorong untuk melakukan aktivitas motoriknya yang lebih banyak dibandingkan orang yang kurang minatnya. Selain itu perkembangan motorik merupakan aspek perkembangan individu yang menonjol dan jelas terlihat, karena gerak merupakan sifat kehidupan. Tanpa gerak maka manusia pasti akan mati, manusia hidup karena ada gerak, seperti gerakan pernafasan, gerak peredaran darah dan gerak pencernaan makanan. Manusia bisa mempertahankan hidupnya apabila ia biasa berupaya menghidupi dirinya dan semuanya memerlukan gerakan.
Perkembangan adalah proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh ke arah keadaan yang makin terorganisasi dan terspesialisasi (Sumantri, 2005). Makin terorganisasi yaitu organ-organ tubuh makin bisa dikendalikan sesuai dengan kemampuan dan kemauan individu, dan makin terspesialisasi yaitu organ-organ tubuh bisa berfungsi sesuai dengan fungsinya masing-masing. Perkembangan bisa terjadi dalam bentuk kualitatif dan perubahan secara kuantitatif, atau kedua-duanya secara serentak.
Motorik adalah istilah umum untuk berbagai bentuk perilaku gerak manusia, dimana gerak merupakan unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sejak dilahirkan gerak adalah salah satu ekspresi dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Perkembangan Motorik adalah proses sejalan dengan bertambahnya usia secara bertahap dan berkesinambungan gerakan individu meningkat dari keadaan sederhana, tidak terorganisasi, tidak terampil ke arah penampilan keterampilan motorik yang kompleks dan terorganisasi dengan baik, yang pada akhirnya ke arah penyesuaian keterampilan. Pendapat lain tentang perkembangan motorik yang dikemukakan oleh Corbin (1990), yaitu perubahan kemampuan gerak dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek prilaku dan kemampuan gerak, dimana aspek perilaku dan perkembangan motorik saling mempengaruhi. Hal ini sesuai dengan prinsip perkembangan motorik anak usia dini yang normal yaitu terjadi perubahan baik fisik maupun psikis sesuai dengan masa pertumbuhannya.
Nilai-nilai yang terkandung dalam perkembangan motorik pada anak usia dini antara lain mendapatkan pengalaman yang berarti, hak dan kesempatan beraktivitas, keseimbangan jiwa dan raga, serta mampu berperan menjadi dirinya sendiri.
C. Sasaran Perkembangan Motorik Anak Usia Dini
Setiap perkembangan pada tingkatan usia anak mempunyai sasaran yang harus dicapai agar tumbuh kembang anak menjadi maksimal. Berkenaan dengan perkembangan motorik pada anak usia dini apabila anak kurang mendapat kesempatan dalam perkembangan motoriknya, maka pada tingkat perkembangan selanjutnya anak tidak akan tertarik dengan aktivitas-aktivitas jasmani. Untuk memperoleh pengalaman secara meluas maka anak perlu melakukan kegiatan bermain. Pengalaman dalam kegiatan bermain yang dilakukan anak bermanfaat bagai pengembangan anak secara maksimal. Adapun yang menjadi sasaran dalam perkembangan motorik pada anak usia dini yaitu :
1) Pengayaan keterampilan motorik kasar dan motorik halus
Secara alamiah jenis gerakan ini sudah dimiliki oleh setiap anak karena berpengaruh bagi perkembangan dan pertumbuhan anak usia dini selanjutnya. Pengayaan keterampilan motorik kasar adalah kemampuan anak usia dini beraktivitas dengan menggunakan otot besar yang tergolong kepada kemampuan gerak dasar, yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Kemampuan gerak dasar ini terdiri dari 3 kategori yaitu kemampuan nonlokomotor, lokomotor, dan manipulatif. Gerak non lokomotor suatu gerakan yang tidak berpindah tempat, seperti menekuk, membungkuk, memilin, mengayun, merendahkan tubuh dan sebagainya. Gerak lokomotor adalah gerakan yang menyebabkan terjadinya perpindahan tubuh seperti berjalan, berlari, melompat dan sebagainya. Sedangkan gerak manipulatif kemampuan untuk memanipulasi benda-benda di luar dirinya. Menurut Kogan (1982) keterampilan ini perlu melibatkan koordinasi antara mata-tangan dan mata-kaki seperti melempar, menangkap menendang, memukul. Manipulatif dikembangkan ketika anak menguasai macam-macam objek.
Selanjutnya keterampilan motorik halus pada anak usia dini adalah beraktivitas dengan menggunakan otot halus seperti menulis, meremas, menggenggam, menggambar, menyusun balok dan memasukkan kelereng ke dalam lubang.

2) Kesadaran Motorik
Dalam bergerak anak usia dini harus menyadari keberadaan dirinya dengan lingkungannya. Mereka harus memanfaatkan indra, mengontrol keseimbangan, mengenali ruang gerak dan memahami bagian-bagian tubuh yang dapat digerakkan. Kesadaran motorik membantu seseorang dalam menafsirkan rangsangan (stimuli) secara tepat sehingga ia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan dapat menghasilkan gerakan yang efektif dan efisien.

D. Tahap Belajar Motorik
Fitts dan Posner (1967) menyatakan bahwa, sesungguhnya orang akan melalui tiga tahapan sebelum ia dapat membuat suatu gerakaan yang terampil
Tahap pertama disebut tahap kognitif, tahap ini merupakan tahap awal dalam belajar gerak dimana anak menjadi tahu tentang gerakan yang dipelajari, sedangkan penguasaan gerakannya masih belum baik karena masih dalam taraf mencoba-coba. Pada tahap ini proses belajar dimulai dengan aktif berpikir tentang gerakan yang dipelajari, sehingga anak berusaha mengetahui dan memahami gerakan dari informasi yang diberikan padanya. Informasi bisa bersifat verbal maupun visual.
Tahap kedua disebut tahap asosiatif, tahap ini ditandai dengan tingkat penguasaan gerakan dimana anak sudah mampu melakukan gerakan-gerakan dalam bentuk rangkaian yang tidak tersendat-sendat pelaksanaanya. Dengan tetap mempraktekkannya berulang-ulang. Pada tahap ini perkembangan anak mulai usia dini sedang memasuki masa pemahaman dan gerakan-gerakan yang sedang dipelajari dengan merangkaikan bagian-bagian gerakan menjadi rangkaian gerakan secara terpadu untuk menguasai berbagai gerakan keterampilan.
Tahap ketiga disebut tahap otomatisasi, tahap ini ditandai dengan tingkat penguasaan gerakkan dimana anak mampu melakukan gerakan keterampilan secara otomatis dengan baik dan benar.
Berdasarkan tahap-tahap dalam belajar gerak, guru dapat merangsang perkembangan motorik anak sesuai dengan tahapan – tahapan belajar motorik sehingga anak dapat menguasai keterampilan geraknya dengan baik sesuai dengan usia anak.

E. Tingkat Perkembangan Motorik
Dalam pengembangan keterampilan motorik anak usia dini perlu juga diperhatikan tingkat belajar motorik anak, sebab kita mendidik anak usia dini melalui kegiatan motorik. Anak akan bergairah menerima aktivitas karena sesuai dengan apa yang disukainya. Selanjutnya menurut Gallahue (1998) ada 5 tingkat dalam belajar motorik yaitu :
1) Tingkat penjelajahan (exploration)
2) Tingkat penemuan (discovery)
3) Tingkat gabungan (coordination)
4) Tingkat pemilihan (selection)
5) Tingkat penghalusan (refine)

Tingkat penjelajahan, bahwa anak dalam mempelajari sesuatu dengan mencoba mencoba mencari apa yang akan dikerjakan. Seperti mengembangkan kegiatan berjalan, guru tidak memberikan contoh cara berjalan, tetapi ia akan mencari sendiri bagaiman macam jalan, dan bagi anak kegiatan pengembangan ini akan disukai, karena dipercayakan uantuk menciptakan dan menjelajah sendiri apa yang ditugaskan padanya.
Tingkat penemuan, yang merupakan tingkat lanjut dari penjelajahan. Bila mereka telah menemukan berbagai cara jalan, yang sudah diberikan berbagai kecepatan, berbagai arah, berbagai irama, berbagai lingkungan, maka anak akan menemukan bagaimana cara yang paling bagus dalam jalan tersebut dan yang mana akan dipergunakan.
Tingkat penggabungan, merupakan gabungan dari tingkat penjelajahan dan tingakat penemuan, seperti anak akan menggabungkan gerakan berjalan, berlari dengan mengayunkan tangan, memegang dan melempar bola.
Tingkat pemilihan dan penghalusan, tingkatan ini biasanya mulai diberikan pada pemilihan suatu kegiatan olahraga atau teknik kecabangan, biasanya pada anak kelas 5 SD sampai SMP. Pada tingkat ini adalah pemilihan salah satu teknik tertentu yang akan dipergunakan pada cabang olahraga tertentu.
Tingkat penghalusan adalah tahap dalam melanjutkan latihan atau aktivitas gerak yang sudah diajarkan sebelumnya, yaitu proses seleksi. Pada tingkat ini guru berusaha bagaimana anak akan berprestasi pada salah satu cabang olahraga tertentu.
Berdasarkan tingkatan-tingkatan perkembangan motorik yang telah dikemukakan di atas guru sudah dapat memahami dan menerapkan dalam pengembangan motorik dengan memberikan aktivitas sesuai dengan tingkatan agar tujuan dapat tercapai. Untuk usia dini tahap belajar hanya sampai pada tahap penggabungan dengan gerakan-gerakan yang sederhana sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Semua bahan pengembangan dapat diberikan di mana saja tetapi tujuan yang akan dicapai tidak akan diperoleh karena tidak sesuai dengan tingkat perkembangan pertumbuhan, tingkat belajar sehingga kegiatan pengembangan tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya..

F. Aktivitas-aktivitas anak usia dini
Agar anak bisa tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya perlu diperhatikan sifat pertumbuhan dan perkembangan yang ada pada diri mereka. Sifat-sifat tersebut digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan kondisi yang sesuai bagi anak-anak dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Aktivitas yang perlu diberikan kepada mereka sebagai berikut:
1) Aktivitas fisik yang cukup atau gerakan yang memerlukan penggunaan otot-otot besar.
Contoh :
a. Berlari – larian atau berkejar- kejaran
b. Bemanjat atau bergelantung
c. Berguling-guling di matras
d. Merangkak
2) Permainan sederhana yang hanya memerlukan penjelasan sedikit, pengorganisasian yang sederhana, dan tidak terlalu lama untuk setiap macam permainan.
Contoh :
a. Permainan sembunyi-sembunyian
b. Permainan gerak dan lagu sederhana
3) Kesempatan mencoba-coba berbuat sesuatu dan meniru gerakan –gerakan
Contoh:
a. Mencoba gerakan yang memerlukan keterampilan gerak dasar dan menggunakan alat-alat sederhana
b. Bermain bola menggunakan kaki dan tangan dengan caranya masing-masing
c. Mengatasi rintangan dengan gerkan meloncat, menerobos atau mengitari sesuatu menurut caranya msing-masing.
d. Bermain dengan menggunakan alat-alat sederhana dengan caranya masing-masing, misalnya menggunakan pemukul untuk memukul-mukul bola
e. Bermain menirukan gerakan binatang
f. Berjalan menirukan jalannya gajah atau ular
g. Berlari menirukan larinya kuda
h. Berloncat menirukan kata meloncat

4) Belajar bekerja sama dan berusaha bersama dengan teman-temannya.
Contoh :
a. Bermain-main bola dalam kelompok dengan cara melempar atau menyepak.
b. Bermain dalam bentuk lomba antar kelompok, misalnya lari estafet, lomba menggulirkan bola secara estafet
5) Kesempatan menggunakan sarana bermain dengan berbagai ukuran , mula-mula memainkan objek yang agak besar kemudian ke objek yang semakin kecil.
Dari berbagai aktivitas-aktivitas yang telah diuarikan di atas, masih banyak lagi aktivitas yang dapat dikembangkan dan dimodifikasi oleh guru yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dengan memodifikasi sarana dan prasarana yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.














PENUTUP
Pengembangan keterampilan motorik pada anak usia dini pada dasarnya merupakan kegiatan yang mengaktualisasikan seluruh potensi anak berupa sikap, tindak dan karya yang diberi bentuk, isi dan arah menuju kebulatan pribadi sesuai dengan cita-cita manusia. Oleh karena itu pengembangan keterampilan motorik dapat diartikan bagian dari pendidikan terutama melalui pengalaman-pengalaman gerak, terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh.
Aktivitas fisik dan olahraga di masa yang akan datang mungkin sangat berbeda dengan aktifitas fisik olahraga yang ada dan populer pada masa sekarang. Oleh karena itu pembinaan perkembangan keterampilan motorik selayaknya mempersiapkan anak didik dengan keterampilan-keterampilan gerak dasar yang sangat dibutukan untuk setiap aktivitas fisik anak .
Penguasaan berbagai keterampilan gerak pada anak usia dini akan mendorong perkembangan dan perbaikan berbagai keterampilan fisik yang lebih kompleks, yang pada akhirnya akan membantu mereka memperoleh kepuasan dan kesenangan melakukan aktivitas fisik. Untuk para pendidik dalam hal ini guru dan orang tua harus dapat mengembangkan berbagai aktivitas fisik yang dapat mendorong anak untuk penguasaan gerak yang lebih baik.










DAFTAR PUSTAKA

1. Ali Husein, 2002. Model Pengembangan Motorik Anak Balita. Jakarta: Direktorat Olahraga Masyarakat.

2.. Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, 2004. Apa, Mengapa dan Siapa Yang Bertanggung Jawab terhadap Program Pendidikan anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional .

3. Fitts and Posner, 1993 Teaching Physical Education for Learning St. Louis : Mosby.

4. Gallahue, L. David, 1997. Motor Develovement . Boston : McGraw Hill
5. Sumantri, 2005 . Model Pengembangan Keterampilan Motorik anak Usia Dini.Jakarta :Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi

1 komentar:

  1. wah.. mantap nih rangkuman bahan pembelajaran motoriknya..
    mudah2an berguna bagi yang membutuhkannya y pa..

    BalasHapus